by

Ahlul Bait Nabi diantara Nasab dan Sebab

Ahlul Bait Nabi diantara Nasab dan Sebab – Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Tuhan itu adalah Maha Sempurna

Karena itu tidak mungkin Tuhan bersifat Nepotisme, Rasis, Fasis, Sektarian dan kolusi.

Sifat seperti itu hanya ada pada manusia. Hewan dan tumbuhanpun tidak memilik sifat-sifat seperti itu. Biar jelas kita ulang, sifat2 seperti itu hanya ada pada manusia.

Kalau Tuhan melakukan hal-hal konyol tersebut tentu itu semuanya akan bertentangan dengan sifatNya yang Maha Adil. Maha Suci Allah dari sifat-sifat yang tidak adil tersebut.

Nasab dan Sebab

Kita perhatikan doa Nabi Ibrahim setelah beliau selesai membangun ka’bah.

1. Minta diterima amal ibadahnya, anak dan keturunannya (QS.Al-Baqarah : 127-128)
2. Mohon untuk menjadikan dzuriyatnya (anak keturunannya) sebagai orang-orang yang tunduk, patuh, pasrah kepada Allah ( QS.Al-Baqarah 128)

Trus Tuhan jawab apa?

Tuhan bilang, OK, tapi janjiKu tidak termasuk kepada mereka-mereka yang berbuat zhalim….

Mendengar jawaban Tuhan itu, maka Nabi Ibrahim kemudian mendeklarasikan bahwa ;

“Barangsiapa yang mengikutiku, maka orang itu termasuk golonganku.” (QS Ibrahim: 36)

Artinya apa?

Artinya nasab adalah penting, tapi sebab juga menentukan apakah seseorang itu akan “dianggap sebagai keluarga”

Dengan kata lain, siapa pun orangnya, tanpa pandang bulu, apabila mengikuti jejak Nabi Ibrahim, baik keluarga ataupun tidak, akan menjadi golongan Nabi Ibrahim.

Sebaliknya, walaupun mereka adalah keluarga Nabi Ibrahim sendiri (pamannya), karena tidak mengikuti jejak Nabi Ibrahim, akhirnya dia tetaplah celaka.

Hal serupa terjadi juga kepada keluarga Nabi Muhammad. Abu Labab itu adalah paman beliau, paman Nabi. Tapi apa yang terjadi dengan beliau? Alquran memberitakan kepada kita melalui nabiNya bahwa Abu Lahab kelak akan ber KTP di Neraka.

Harusnya ini cukup ya soal perbedaan antara nasab dan sebab?

Tapi kalau belum cukup juga, kita akan tambahkan dengan kisah Nabi Nuh.

Pada saat Nabi Nuh dan kaumnya dilanda bencana banjir bandang. Allah sudah menjanjikan orang yang akan selamat adalah siapa saja yang mau tunduk dan patuh atas ajakan Nabi Nuh. Jadi kata kuncinya disini adalah “SIAPA SAJA”, tanpa memandang nasab, status sosial apalagi afiliasi politik. NO!

Mendengar pemberitahuan dari Tuhan semesta alam seperti itu, maka spontan Nabi Nuh memohon “suaka” dan meminta izin untuk “memasukkan anaknya” kedalam list yang selamat dalam banjir yang menyerupai kiamat di dunia itu.

Nabi Nuh memohon dan berdoa kepada Tuhan semesta alam:

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ
الْحَاكِمِينَ

“Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil’.” (QS Hud: 35)

Trus Tuhan jawab apa?

Walaupun itu anak kandungnya Nabi Nuh sendiri, tapi karena doi adalah berandalan dan preman serta tidak menghargai maqam orang tuanya yang Nabi, maka Allah menolaknya dengan tegas sebagaimana yang terekam dalam Al-quran;

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ، فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh!. Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik. Janganlah kamu meminta kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya Aku menasihatimu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS Hud: 46)

Jadi sekarang sudah jelas kan soal ahlul bait Nabi?

Bahwa disamping nasab, sebab juga penting! Bahkan dalam banyak hal, sebab adalah sebagai penentu.

Bisa jadi, ada keluarga Nabi tapi karena tidak mengikuti jejak Nabi, maka para Nabi itupun tidak akan mau mengakuinya sebagai keluarga/golongannya.

Begitu pula sebaliknya, bukan keluarga Nabi namun patuh kepada Nabi, ia bisa saja dianggap sebagai keluarga nabi.

Memangnya bisa begitu?

Iya pasti bisalah…

Ada contohnya?

Ada!

Contohnya adalah Salman Al-Farisi.

Salman adalah sahabat yang patuh, orangnya kuat, idenya cemerlang, karena keistimewaannya tersebut maka semua sahabat Muhajirin dan Anshar menganggapnya sebagai keluarga mereka sendiri.

Begitu pula Rasulullah. Beliau menyambut pengakuan para sahabat Muhajirin dan Anshar tersebut dengan mengatakan:

سَلْمَانُ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ

“Salman adalah bagian dari kami, Salman adalah ahlul bait kami”

Padahal sebagaimana yang kita ketahui bersama, Salman bukanlah darah daging Rasulullah. Ia juga bukan keturunan suku Quraisy. Ia orang Persia. Walaupun demikian, ia diakui Nabi sebagai ahlul baitnya (keluarga Nabi).

Karena apa? itu semua karena SEBAB mas bro, bukan karena nasab sama sekali.

Sebab Salman Al-Farizi beriman kepada Allah dan Nabinya. Mengikuti semua perintah dan menjauhi semua larangan Tuhan dan nabiNya.

Jadi sekarang clear ya?

Kesimpulannya, boleh jadi di zaman sekarang secara nasab seseorang masih keturuanan Nabi, seperti saya, Anda dan orang-orang yang mengobral kata-kata yang tak patut itu.

Tapi apakah kita tidak bisa menarik nafas dalam dalam sambil berkaca dan mengambil hikmah dari kisah-kisah yang terekam di dalam Alquran tersebut?

Ups jangan kaget ya, kalau tadi saya menyebut Anda sebagai keturunan Nabi, dan sayapun adalah keturunan Nabi.

Iya, kita semua adalah keturunan Nabi, kalaupun bukan dari Nabi Muhammad setidaknya kita adalah keturunan dari Nabi Adam a.s.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Popular