by

AKAL ADALAH UTUSAN KEBENARAN

Afala Taqilun – Utusan Kebenaran | Mungkin karena posisi akal yang begitu agung itulah kenapa Tuhan kemudian mengingatkan kita melalui NabiNya, bahwa tidak ada gunanya beragama bagi mereka yang yang tidak menggunakan akalnya.

Terkait dengan soal ini, kita juga sering membaca di Quran dan hadis, bagaimana nabi sering mengingatkan sahabat-sahabatnya akan pentingnya akal dengan menukil firman Tuhan, “Afala Tatafakkarun” (apakah kamu tidak memikirkan), “Afala Ta’qilun”,(apakah kamu tidak menggunakan akalmu), “Wa fi Anfusikum, Afala Tubshirun”, (di dalam dirimu apakah kamu tidak melihat?)

Karena itu kita anak nongkrong sering mengutif firman Tuhan itu sebagaimana Nabi pernah menyampaikannya, bahwa “agama itu hanyalah untuk orang-orang yang berakal”.

Apa buktinya bahwa agama itu hanya untuk orang-orang yang berakal?

Jelas buktinya sangat mudah bisa kita temukan di dalam kehidupan sehari-hari, anak balita misalnya, bagi mereka anak balita tentu tidak melekat kepadanya kewajiban untuk menjalankan syariat agama sebagaimana orang dewasa, kenapa coba? Iya jelaslah, karena akal mereka belum “nyampe”.

Bukan hanya soal menjalankan syariat agama, Alquran bahkan melarang kita untuk menyerahkan urusan harta kepada orang-orang yang akalnya belum “nyampe”, tentu termasuk kepada balita itu, gak percaya? sila cek (Q.S. An-Nisa ayat 5).

Trus mau bukti lagi?

Oke, kita lihat bukti yang lain lagi, kepada orang dewasa misalnya, jelas kepada orang dewasa yang sakit jiwa atau gila, juga tidak mempunyai kewajiban untuk menjalankan syariat agama. Kenapa lagi coba? Alasannya juga mirip mas bro and sis, orang gila juga tidak dikenakan kewajiban untuk menjalankan syariat agama karena “akalnya lagi error”
Cukup jelas kan? Atau masih kurang jelas?

Kalau masih kuang jelas, yuk kita cek orang yang bukan balita, dan bukan pula orang dewasa yang gila, Orang tua yang sudah pikun akut misalnya, bagaimana coba? Apakah kepada orang tua yang sudah pikun akut itu masih juga dikenakan kewajiban untuk menjalankan syariat agama sebagaimana orang dewasa sehat dan berakal lainnya?

Tentu jawabannya tidak, kepada orang tua yang sudah pikun akut itu tidak ada dosa baginya jika dia tidak menjalankan sholat dan puasa, artinya bagi mereka tidak terkena kewajiban untuk menjalankan syariat agama lagi sebagaimana diwaktu sehat mereka.

Jadi sekarang sudah terang bagi kita, bahwa agama itu sejatinya hanyalah untuk orang-orang yang berakal, dan karena itu jangan mau dengarin kalau ada ustadz manapun yang melarang kita untuk menggunakan akal dalam memahami alquran dan makrifat alam semeseta ini, termasuk makrifat alam malakut.

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ . وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ. وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ. وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ. فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana diciptakan, dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan”.(Q.s. Al-Ghasyiyah, 17-20).

Pada ayat yang lain, Tuhan juga menegaskan seraya menegur orang-orang yang rajin membaca atau menghapal al-Qur’an tetapi tidak menggunakan akalnya untuk mempelajari dan memahami isinya:

افلا يتدبرون القران ام على قلوب اقفالها

“Afala yatadabbarun al-Qur’an Am ‘Ala Qulubin Aqfaluha”.
(Apakah kalian tidak memikirkan/merenungkan isi al-Qur’an, atau hati mereka terkunci”. (Q.s. Muhammad, 24).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Popular